FEATURED

Arogansi dan Premanisme: Ketika Perilaku “Biadab” Dianggap Biasa

Perilaku Kasar yang Kian Membudaya

Beberapa waktu terakhir, ruang publik kita disuguhi rentetan drama arogansi yang memprihatinkan. Dimulai dari seorang penumpang kereta yang kehilangan tumblernya; meski pihak KAI telah berkomitmen menggantinya dengan barang serupa, ia tetap bersikukuh menuntut barang aslinya ditemukan. Ego personal seolah berdiri di atas prosedur dan nalar sehat.

Berlanjut ke moda transportasi Transjakarta, di mana seorang ibu memaki perempuan muda hanya karena menolak memberikan tempat duduknya. Kata-kata kasar, tatapan intimidasi, hingga permintaan paksa kartu identitas (KTP) menunjukkan betapa berlebihannya seseorang dalam memaksakan kehendak.

Kisah pilu juga datang dari Sulawesi. Seorang oknum dosen terekam meludahi seorang kasir perempuan yang usianya jauh di bawahnya. Pemicunya sepele: ia tak terima ditegur untuk mengantre. Video yang beredar menunjukkan bahasa tubuh yang angkuh dan merendahkan—sebuah ironi bagi seseorang yang menyandang gelar akademis tinggi.

Tak berhenti di situ, seorang pemuda yang berkendara tanpa helm sambil merokok justru mengamuk dan menendang motor pengendara lain yang menegurnya. Polanya selalu sama: setelah viral dan dihujat, barulah permintaan maaf meluncur.

Negeri Ramah yang Berubah Menjadi Pemarah

Nusantara selama ini masyhur sebagai negeri yang ramah. Namun kini, wajah pemarah dan bengis seolah menjadi gaya hidup baru. Apa yang sebenarnya terjadi?

  • Tekanan Mental dan Ekonomi: Hidup di lingkungan yang tidak mendukung menciptakan “sumbu pendek”. Masalah sederhana bisa menyulut ledakan emosi. Jika manusia langsung bereaksi tanpa menimbang baik-buruk dengan akal sehat, lantas apa bedanya kita dengan hewan?
  • Kesehatan Mental yang Terabaikan: Perilaku kasar yang berulang ini bukan sekadar aksi spontan, melainkan indikasi adanya gangguan kesehatan mental kolektif yang sering kali tidak disadari.
  • Teladan Buruk dari Elit: Dunia agama dan politik memberikan dampak besar. Kita sering melihat elit negara atau tokoh agama yang tersandung masalah justru tersenyum tanpa beban, membangun narasi pembenaran diri, dan minim penyesalan.
  • Penyelesaian “Jalan Pintas”: Atas nama harmoni, banyak kasus selesai hanya dengan permintaan maaf atau kompensasi materi. Ketiadaan efek jera membuat perilaku arogan ini terus berulang.
  • Salah Kaprah Terminologi Agama: Pengampunan dan maaf adalah nilai yang baik, namun sering kali disalahgunakan untuk membenarkan premanisme. Kesalehan yang tidak tepat guna ini sebenarnya hanya menimbun “bara dalam sekam”.

Krisis Malu dan Tanggung Jawab

Kita sedang menghadapi degradasi rasa malu. Banyak orang merasa berani meski perilakunya keliru. Sikap kekanak-kanakan ini sangat memalukan bagi pribadi yang mengaku religius dan dewasa. Seharusnya, keberanian itu dibarengi dengan rasa malu saat kita gagal bertanggung jawab atau merugikan orang lain.

Mencari Jalan Keluar

Apa solusinya? Kita perlu membangun kembali kesadaran bahwa hidup bersama membutuhkan penghargaan terhadap sesama.

  1. Mengikis Egoisme: Mengedepankan cinta diri yang sehat, bukan egoisme yang menuntut pemakluman berlebih atau keuntungan pribadi di atas kerugian orang lain.
  2. Kemanusiaan di Atas Segalanya: Tempatkan nilai kemanusiaan di atas agama, kekayaan, maupun jabatan. Selama kita masih mendewakan materi dan pangkat, ketertiban sosial sulit tercapai.

Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Masalah-masalah sosial ini ibarat sampah yang disembunyikan di bawah permadani indah. Terlihat megah dari luar, namun menyimpan potensi pembusukan yang luar biasa dari dalam jika tidak segera dibenahi.

Perubahan besar harus dimulai dari keberanian untuk bercermin pada diri sendiri. Menjadi pribadi yang beradab tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan kita atau seberapa suci penampilan luar kita, melainkan dari sejauh mana kita mampu menahan diri dan menghormati hak orang lain di ruang publik. Jika kita terus membiarkan arogansi menjadi kewajaran, maka kita sedang mewariskan budaya rimba bagi generasi mendatang. Mari berhenti menyembunyikan keburukan di balik topeng kesantunan semu, dan mulailah kembali memanusiakan manusia, sebelum nurani bangsa ini benar-benar mati tertimbun ego.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *