Arti di Balik Utang Anies Baswedan

Arti di Balik Utang Anies Baswedan

Masih cukup ramai pembicaraan, meme, dan juga lelucon mengenai utang Anies Baswedan saat nyagub DKI 2017. Seolah itu adalah bencana bagi si bakal calon presiden Nasdem ini. Padahal tidak. Ingat, mereka ini, Anies Baswedan dan penasihat politiknya memang menggunakan slogan cemar asal tenar.

Pembicaraan mengenai utang ini menjadi sebuah bola salju ke mana-mana. Menyangkut Prabowo, Gerindra, Sandiaga Uno, Yusuf Kala, dan banyak hal lainnya. Ada yang  mengatakan, jika ini adalah poin buruk bagi mantan menteri Jokowi itu keliru.

Mengapa demikian?

Pertama, yang mengungkit itu Aksa, keponakan JK, dan publik juga paham, bahwa JK di balik Anies maju di pilkada DKI yang paling brutal dan buruk sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia. Hingga saat ini masih terasa dan sangat kuat.

Nah, apa iya, orang demikian mau memberitakan hal buruk dari calon yang memang mereka gadang-gadang sejak lama? Jelas tidak mungkin.

Kedua, mereka, JK dan yang menyingkap ini malah mau mempertunjukkan bahwa Anies itu orang biasa, miskin, dan tidak punya apa-apa yang mau mengabdi pada negara, dengan menjadi presiden. Ini poin penting    yang susah untuk diyakini kebenarannya.

Mengapa? Jejak dan rekaman kinerja, dan bahkan nyolong start  dengan jet pribadi memperlihatkan apa yang diungkapkan dengan utang itu jelas memang orang yang tidak cukup pantas menjadi presiden malah.  Jika berprestasi, tanpa uang pasti bisa, ini yang perlu dijadikan rujukan publik.

Ketiga, jika punya utang demikian banyak. Wajar gak ketika anggaran tidak akan bisa digunakan sebagaimana harusnya. Lihat saja bagaimana kelebihan bayar, salah input, dan sebagainya. Itu adalah jelas-jelas mengembalikan modal. Apalagi modalnya dari utang.

Susah melepaskan diri dari utang dengan slogan mau membangun. Pantas saja menggunakan klaim  prestasi siapapun demi menaikan citranya sendiri. Lha mikir kembalikan utang saja sudah pusing.

Empat. Pihak yang  mengungkapkan hendak dan bermaksud mengatakan, si calon lepas dari jerat mafia, pemodal, dan cukung yang bisa mengendalikannya. Naif. Bagaimanapun jika berangkat dari utang, uang, dan politik modal, tanpa kapasitas dan prestasi, ya hasilnya seperti Jakarta.

Siapa yang bisa membantah dengan data, bahwa Jakarta lebih baik di tangan Anies dibanding Ahok-Jokowi, wong dengan Heru saat ini pun sudah keteteran. Orang yang tidak bisa apa-apa begitu mampu lepas dari pengaruh pemodal, siapapun mereka? Jelas tidak. Lihat saja jargon dan janji kampanyenya satu pun tidak ada yang terwujud.

Kelima. Publik kudu paham, jangan terkecoh kata-kata  calon yang memang ahli asal bicara dengan pemilih dan pendukung fanatis buta, yang tidakmau melihat realitas. Risiko menuliskan keburukannya yang akan terbaca oleh mesin dunia digital sebagai pembicaraan. Mereka, si mesin ini tidak membedakan baik dan buruknya.

Toh, tetap harus disikapi apapun yang mereka ungkapkan itu juga dikritisi agar tidak menjadi-jadi dan memutarbalikan fakta. Prestasi telah menjadi sebuah tuntutan pejabat era sekarang. Berbeda berbelas tahun lalu.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply