Belajar Demokrasi dari SBY-AHY

Belajar Demokrasi dari SBY-AHY

Duet bapak dan anak ini, akhir-akhir ini begitu gencar melemparkan narasi. Lha mbok membuat atau menciptakan prestasi, bukan hanya sensasi. Masalahnya emang tidak mampu. Aja dipeksa, nanti lapor Komnas HAM, memaksakan kehendak.

AHY  mengatakan, demi demokrasi, biar saja penghinaan pada presiden dan wakil presiden. Ah masak sih, demokrasi boleh menghina? Esensi demokrasi itu berani berbeda dan mengakui kekalahan, tidak kog menjadikan hinaan sebagai konsekuensi demokrasi.

Maunya kan merendahkan pemerintah yang mengesahkan UU KUHP yang baru, Bersama DPR dengan adanya pasal penghinaan presiden dan wakilnya. Menjadi lucu, mosok AHY lupa siapa yang melaporkan penghinaan presiden zaman bapaknya menjabat? Jokowi yang tiap hari dihina-hina, termasuk dirinya belum ada laporan polisi mengenai itu.

Sang pepo atau bapaknya juga relatif sama, ketika mengatakan, jika pas menjabat presiden, dia tidak mempersiapkan penggantinya. Benar, istana, kepresidenan tidak menyiapkan suksesi, namun mosok sudah lupa, lha konvensi itu apa?

Memang bukan SBY atau presiden, namun SBY selaku pemilik, ingat partai Demokrat milik SBY. Apa yang Jokowi lakukan dan miliki saat ini? PDI-Perjuangan? Jelas bukan. Ia hanya mengatakan presiden mendatang kudu menjaga mengenai pelarangan ekspor barang-barang strategis yang sudah ia perjuangkan. Mosok salah sih?

Kesalahan logika justru ada di Pak Beye, yang memahami demokrasi dengan sudut pandang dan kepentingan sendiri. Jokowi sebagai presiden wajar pengin penggantinya tidak merusak apa yang sudah ia bangun.

Pemikirannya adalah kesinambungan, bukan hanya selesai dan bubar, pengalaman kerusakan Jakarta itu pengalaman mahal. Beda dengan SBY yang memberikan warisan mangkrak di mana-mana. Energi untuk membangun habis banyak karena kudu mengulangi lagi, mundur karena harus menyelesaikan yang belum digarap.

Sama juga yang dikatakan AHY soal menghina. Bedakan dengan kritik. Mosok membedakan nasihta, kritik, hinaan saja tidak ngerti? Kek itu mau jadi presiden untuk negara segede dan sekaya Indonesia? Waduh cilaka.

Lagi-lagi jadi ingat kisah Nasrudin Hoja. Logika seolah-olah benar, padahal bengkok. Cilaka negara ini dipenuhi politikus yang logikanya bengkak-bengkok dan merasa diri paling benar. Miris. Minteri orang yang kurang bahkan malas membaca.

Media pun begitu sikapnya. Seolah-olah benar, padahal ngaco. Pemahaman keliru yang diulang-ulang, sehingga kebenaran itu menjadi sumir. Pendidikan dan pemahaman agama masyarakat juga tidak mendukung untuk bersikap kritis.

Politikus minim prestasi hanya modal narasi dan sensasi demi popularitas. Masyarakat kudu dianimasi, dicelikkan bahwa potensi ngaco elit itu sangat gede.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

 

Leave a Reply