Benarkah Pratikno Brutus Istana?

Beberapa waktu lalu ada salinan artikel dari sebuah situs di WAG, usai membaca mencoba mencari dari asal artikel, ternyata sudah dihapus admin. Artikel itu mengupas mengenai sepak terjang Pratikno yang oleh si penulis dianggap Brutus. Dalam artikel itu dikemukakan jika Pratikno mirip dengan Brutus.

Orang kepercayaan Jokowi dan menjadi menteri dua periode, namun malah berkali ulang ketemu dengan Anies Baswedan.  Artikel itu melihat pertemuan ini seperti penghianatan pada Jokowi yang telah menjadikannya menteri, sekretaris negara yang memiliki akses paling dekat dengan presiden.

Menarik sebenarnya untuk dibiarkan saja, tidak perlu dihapus. Beberapa hal layak dicermati untuk menjawab bagaimana tudingan Brutus itu kog rasanya jauh.

Artikel itu menyajikan analisis dan dasar menyematkan Brutus karena beberapa kali Pratikno menemui Anies Baswedan.  Jawabannya adalah, Presiden Jokowi itu Presiden RI, siapapun itu, termasuk Anies Baswedan, apapun afiliasi politiknya. Para pencaci, pendemo, dan juga termasuk teroris yang tidak mau mengakui jabatan yang diemban Jokowi, toh kalau grasi mau tidak mau tetap Jokowi yang teken.

Artinya, apa salahnya Pratikno ketemu Anies, sama juga ketika alasan Anies Baswedan pamitan usai menjabat gubernur. Kalau tidak ditemui malah riuh rendah lagi, noh presiden kekanak-kanakan, karena beda pandangan tidak mau dipamiti.

Bisa pula kan kepentingan negara yang mau disampaikan, ini juga sama asumtifnya dengan apa yang disampaikan dalam artikel terdahulu. Toh bisa saja demikian, dan boleh juga memiliki pemikiran demikian. Bisa sama-sama    tidak tepatnya,  namun memiliki pemikiran yang lebih positif sedikit.

Jokowi selaku presiden itu diperlengkapi dengan instrumen dan perangkat yang sangat komplet. Intelijen, BIN, polisi, tentara, UU, semua diberikan untuk melindungi presiden dari para penghianat, atau Brutus yang sangat mungkin ada. Nah,  dengan keberadaan perangkat yang demikian banyak, mumpuni, dan juga komplet, mosok tidak bisa mendeteksi keberadaan dan laku politik menyimpang ini.

Latar belakang Pratikno ini akademisi, bukan pula politikus, artinya sangat terbiasa bermain pada koridor rasional.  Berbeda jika ia seorang politikus yang biasa blusak-blusuk, main banyak kaki bisa, dan juga bukan militer atau intelijen yang bisa bergerak ke mana-mana dengan leluasan, bisa memainkan peran dengan sangat rapi.

Jika, orang biasa saja melihat dengan gamblang pertemuan-pertemuan  mereka, apalagi intelijen? Mosok sih serendah dan seremeh itu keberadaan intel negeri ini? He.. he… he.. Artinya, terlalu naif jika mengatakan bahwa ada Brutus di istana.

Politik itu bukan hitam dan putih sangat mutlak begitu. Abu-abu itu malah dominan dalam percaturan politik. Masalahnya adalah, begitu banyak orang yang menggunakan dualitas kubu ekstrem dalam melihat fenomena politik.

Brutus itu sahabat dan kepercayaan Julius. Ia yang memaksa Julius datang dalam sebuah acara, yang sebenarnya ia enggan. Di sana, mereka, Brutus bersama senat akhirnya   membunuh Julius. Sebelum wafat, Julius berpaling dan melihat Brutus menusukan pisaunya. Jelas melihat, bukan model keris Mpu Gandring yang membunuh Tunggul Ametung itu siapa tidak jelas. Brutus ini jelas ketahuan bahwa ia ikut dalam konspirasi penggulingan Julius.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply