Buzzer atau Influencer, dan Keberadaannya
Ramai-ramai sedang membahas buzzer ala MUI Jakarta, padahal pernah ada pernyataan dan fatwa jika buzzer itu haram. Soal pertanggungjawaban terutama, moral biar saja, bukan itu bahasan artikel ini. keberadaan buzzer ataupun influencer yang menjadi sebuah ironi.
Pergerakan media sosial sangat cepat, masif, dan bergaung amat besar. Ini yang politikus dan elit sukai. Sayang, masih banyak yang munafik dan merasa terbaik sehingga merendahkan namun sekaligus menggunakan jasa buzzer atau influencer ini.
Buzzer, kemudian merendahkan menjadi buzzerRP, labeling yang maunya merendahkan dan menistakan, tapi pada sisi lain, sejatinya mereka melakukan hal yang sama, atau menggunakan jasa pemain media sosial ini.
Fakta, media arus utama yang melabelkan istilah buzzerRP juga berita, analisis, opini, bahkan surveynya juga sangat partisan, tidak berimbang, dan tendensius. Ini sangat serius dan berbahaya. Mengapa?
Media itu konon pilar keempat demokrasi. Kala mereka sudah abai hal yang hakiki dari demokrasi saja mereka khianati, bagaimana bisa menjadi pilar? Obyektif dan berimbang itu harus, bagi media.
Lain dengan buzzer dan influencer yang memang memiliki dan berhak berafiliasi secara politik ataupun keyakinan. Konsep dalam membangun opini sejatinya sudah jauh berbeda. Ketika media lebih tendesius ya bubar.
Lebaling saja sudah bisa diduga dari mana afiliasinya kog. Kadrun cebong berubah menjadi buzzer dan influencer. Narasi yang membayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Elit pun ikut-ikut.
Munafik menjadi kata kunci yang mengerikan. Bagaimana menghujat namun sekaligus menggunakan jasa pihak yang sama. Demokrat dan kini MUI ikut-ikut arus itu.
Jika kebenaran menjadi nisbi, bagaimana orang-orang yang moralis itu bisa berlaku dan berucap dengan lantang. Mengutuk diri sendiri berarti? Miris. Buat apa hapal dan mengagung-agungkan label namun isinya kebalikannya? Mambangun mewah kuburan isinya juga belatung dan jasad renik bau.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan