Politik

Hercules dan Role Model Leadership

Hercules dan Role Model Leadership

Hari-hari ini sedang panas-panasnya bicara mengenai keberadaan Hercules. Lebih parah lagi, ketika ada pengacara yang “mengancam” Gubernur Jawa Barat, Deddy Mulyadi berkaitan dengan ormas dalam “binaan” si orang kuat ini. Media sosial juga digegerkan dengan keberadaan video di mana Hercules diajak photo oleh para prajurit pasukan elit negeri ini.

Sigap petinggi tentara melakukan klarifikasi, khas negeri ini, ngeles dan mau membina anak buahnya agak bisa menahan diri. Tidak ada hal lain, mengecam misalnya, merasa bersalah dan tidak patut, atau sejenis itu. Biasa, menilai bahwa itu kesalahan lumrah. Tanpa ada indikasi salah harus dibenahi dan seterusnya. Eksploitasi dan melanggar HAM jika menuntut lebih dari itu.

Eh, dalam mendia percakapan juga ada, dalam sebuah pembekalan atau pembinaan ASN, si pembicara menggunakan Hercules sebagai contoh leadership yang layak menjadi panutan. Apasih sumbangsih bagi negara oleh Hercules?

Jauh lebih banyak tokoh baik berbangsa, bisnis, atau olahragawan yang layak menjadi panutan. Benar, mungkin Hercules sukses menjadi pimpinan “ormas” jika terlalu kasar disebut ketua preman. Pada sisi lain, dari berbagai tempat ada laporan, bagaimana “ormas” ini malah menjadi penghalang bagi pembangunan, investor pada kabur karena takut upeti yang tidak jelas. Mau membuka pabrik dicegat kalau tidak setor. Lha model begitu kog sumber inspirasi?

Mosok, mereka-mereka ini, para elit tidak tahu sih? Sama juga dengan kata pejabat yang menyebut “THR” sebagai budaya bangsa. Lha kalau orang atau lembaga, tidak  bekerja namun minta tunjangan hari raya kog bagian dari budaya? Ini waras atau memang tidak mampu membedakan apa yang ada di lapangan?

Beban negara dan masyarakat itu bukan untuk hal yang mendasar, namun memenuhi hasrat elit yang hedon. Bagaimana cukup dengan gaji dan upahnya, ketika hidup dalam kemewahan, enggan kerja keras, lebih cenderung maunya kerja yang ringan, pendapatan gede. Mimpi di siang bolong, karena tidak ada tanpa kerja keras namun berhasil.

Entah, jika sudah kebalik-balik falsafahnya, sehingga bisa jadi orang tidak perlu bersusah-susah, untuk mendapatkan prestasi. Atau tidak penting orang bermanfaat bagi sesama, sepanjang bisa ngakalin dan ngadalin pihak lain. Pihak lain adalah alat untuk naik. Ngeri jika demikian.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *