FEATURED

Nadiem Makarim Tersangka Korupsi

Belajar dari Tom Lembong, Nanti Profesional Enggan Jadi Menteri

Soal korupsi itu tidak lagi mengejutkan. Apalagi jika bicara orang politik. Miris, yang kena KPK atau Kejagung biasanya orang professional, bukan berbasis dan berangkat dari partai. Belajar dari kasus terbaru Mantan Mendiknasristek Nadiem Makarim dan Mendag Tom Lembong, jadi pejabat politik bukan kader partai mengerikan.

Padahal banyak orang-orang politik baik pengurus apalagi ketua umum, yang bolak-balik dipanggil KPK, terus saja sekadar saksi. Padahal masuk dalam putusan terpidana lain, mereka aman-aman saja. Ada yang jadi menteri  berkali ulang, pindah pos lain, balik lagi menteri.

Profesional Kapok Menjabat Menteri

Miris, Menteri itu sebenarnya lebih pas jabatan karir, profesional, ahli,  atau pakar. Sayang, di negara penuh drama, sok demokratis begini susah mau kabinet professional. Lebih cenderung orang-orang politik yang sering tidak kapabel dan profesional di bidangnya. Pemborosan.

Mengapa? Mereka perlu staf yang banyak karena memang tidak bisa. Jabatan diperoleh karena balas jasa atau jatah partai politik yang mengusung. Negara dibebani banyak staf khusus, staf ahli, penasihat, dan sebagainya. Mereka juga kadang bukan ahlinya, namun koncoisme.

Lamban. Perlu kerja empat lima kali, karena memang bukan bidangnya. Stafnya perlu menjelaskan lagi dan ketika mengambil Keputusan susah, sebabnya ya tidak paham apa yang harus dilakukan.

Inefisien, selain pengetahuan, atau koordinasi, sangat mungkin salah kelola. Lihat saja kinerja BUMN amburadul semua. Negara selalu nombok dengan penyertaan modal, hasil selalu tekor. Menteri pun kinerjanya seperti itu.

Professional enggan, takut, khawatir kalau masuk jebakan maling. Apakah yakin orang-orang ini beneran ngambiin uang? Tidak yakin. Namun lingkungan yang memang habitnya maling dan tamak, ya suka atau tidak hal itu terikut. Paham menterinya lemah karena tidak memiliki pegangan partai, kena lah mereka.

Jika terus-terusan orang baik, pinter, cerdas, dan kompeten enggan jabatan menteri, semua akan dibabat orang-orang parpol.  Persoalan korupsi akan melaju dengan sangat kencang.

Apakah semua orang parpol brengsek? Tidak juga, namun dominan tidak beres. Rekrutmen yang sekadar mengandalkan selaku pendulang suara, pokoknya tenar, kadang viral karena hal yang buruk pun tidak dijadikan pertimbangan.

Tidak sedikit kader atau anggota partai itu kutu loncat. Ada masalah di sana dengan senang hati dipinang partai lain. Biasanya kalau tidak tenar ya kaya raya.

Nah, pengelola negara macam itu. Professional dan kapabel cenderung dijadikan musuh bersama. Itu yang membuat negara ini maju mundur, maju selangkah, kembali dua puluh langkah.  Jauh lebih mundur dari pada capaian sebelumnya.

Ada pihak-pihak yang memang membuat keadaan di Indonesia ini dikelola oleh amatiran. Semua yang baik malah dicaci maki, yang jelek memperoleh penghargaan dan penghormatan.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *