Politik

Reformasi Polri, Bukan di Bawah Kendali Militer

Sadari Gaya Hidup

Menarik pernyataan tokoh Gerakan Nurani Bangsa yang mengusulkan reformasi Polri. Hal ini terpicu oleh banyaknya aksi yang tidak semestinya dalam demo beberapa saat yang lalu. Prabowo selaku presiden menyetujui usulan itu. Ada beberapa hal yang laik diulik;

Polri Mandiri, Bukan dalam Kendali Militer

Apa yang harus disadari, jangan sampai polisi menjadi “bawahan” militer, khususnya angkatan darat sebagaimana era Orba yang lalu. Posisi yang sama, setara, hanya siapa yang dihadapi itu lain dan berbeda. Mengapa ini perlu disadari? Karena akibatnya mengerikan jika kembali pada masa lalu, polisi itu sipil, bukan militer. Paradigma dalam menghadapi “musuh” itu berbeda jauh.

Militer itu menjaga keamanan dan pertahanan dari pihak luar, musuh yang pemikirannya adalah pokoknya aman. Membunuh atau terbunuh itu sebagai hal yang sudah menjadi pedoman dasar. Polisi menghadapi anak bangsa sendiri, bisa jadi adalah tetangganya. Maling, rampok, koruptor, pendekatannya bukan kekerasan sampai menembak. Jelas berbeda. Tentu saja tentara tidak asal tembak dan membunuh sebagai hal yang normal. Alasannya jelas, demi tegaknya bangsa dan negara.

Pengalaman panjang selama Orde Baru kan identik dengan militerisme, bentakan, sangar, arogan, dan ugal-ugalan. Hal yang makin ke sini polisi makin mirip gaya lama, lebih mengerikan mereka “bersaing” dengan militer. Sering terjadi friksi di antara mereka.

Gaya Hidup

Beberapa waktu lalu ada isu polisi gendut. Rekening mereka luar biasa besar. Ada perselisihan dengan KPK hingga lahir istilah cicak versus buaya. Pejabat-pejabat teras polisi memiliki kekayaan luar biasa. Dalam sebuah konferensi pers netizen mengulik baju putih yang dikenakan perwira polisi itu berjata belasan juta. Padahal waktu itu presidennya Jokowi mengenakan baju putih sangat biasa.

Lihat saja sekarang  parkiran kantor-kantor polisi dari Polsek hingga Polda, pastinya di Mabes Polri sama saja, penuh dengan deretan mobil. Apakah bukan karena kesejahteraan bangsa meningkat? Ya boleh alibi begitu, namun jika berkaitan dengan gaji dan tunjangan, terus tanggung jawab mereka pada keluarga, apa itu semua sudah cukup?

Video, pembicaraan, dan juga kasus-kasus polisi melakukan hal-hal yang negative itu sekarang ini begitu banyak. Puncaknya ya ketika melindas ojol saat rusuh kemarin itu. Pembunuhan Josua bertahun lalu sebenarnya klimak atas perilaku ngaco polisi, namun sama saja. Sekadar basa-basi, tidak mengungkap secara luas permasalahan apa.

Adanya jenderal bintang  yang jualan sabu, menghilangkan catatan kriminal,  sebenarnya signal yang sangat kuat. Hanya penyelesaiannya sekadar kerokan padahal itu kanker akut.

Rekrutmen bermasalah. Kunci dan gerbang ini perlu pembenahan. Pun naik pangkat atau pindah itu juga bicara uang. Upaya kenaikan pangkat dengan menyelesaikan kasus besar, toh sas-sus mengatakan, bahwa kasusnya mereka ciptakan sendiri.

Uang menjadi mahakuasa untuk bisa menjadi sesuatu. Gaya hidup mereka juga sangat luar biasa besar. Tanpa kesadaran ini, susah mau direformasi macam apapun ya tidak jalan.

Kementerian Pendauyagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi juga tidak banyak mengubah birokrasi ASN. Akan sama saja jika tidak menyasar yang fundamen. Gaya hidup dan rekrutmen.

Cenderung malu kalau miskin dari pada malu karena ketahuan maling

Ironis, bangsa religius, sangat menjunjung tinggi agama, namun malu jika terlihat miskin dan malah tidak malu ketahuan maling. Cengengesan waktu ditangkap KPK, Kejagung, atau Bareskrim. Kan ngaco. Ke mana ajaran agamanya?

Reformasi Polri sangat bagus. Jangan sekadar ada lembaga atau  gede slogan, namun melakukan perbaikan secara sungguh-sungguh dan ada pada dasarnya. Jujur mengakui masalah dan penyebabnya, terus itu diperbaiki.

Salam penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *