Bahar Smith, Ratna Sarumpaet dan Politik Hari ini

Bahar Smith, Ratna Sarumpaet dan Politik Hari ini

Mengaku ditembak, lapor polisi, namun  pihak keamanan tidak menemukan proyektil. Spekulasi kemudian menjadi bahan candaan. Jadi teringat musim menjelang pilpres periode kemarin juga adaa peristiwa yang identik. Ratna Sarumpaet, operasi plastik namun mengaku digebukin rambut cepak, maunya adalah aparat.

Pemerintah langsung dituding sebagai pelaku, karena keberadaannya di posisi oposan. Langsung glorifikasi atas peristiwa dengan balutan hoax itu terjadi. Fadli Zon, Amien Rais, dan petinggi-petinggi partai oposan dan barisan sakit hati langsung menggunakan itu untuk mendeskreditkan pemerintah, Jokowi khususnya.

Keadaan cukup panas. Tudingan pemerintah pelaku kekerasan mulai bermunculan. Jelas siapa di balik itu semua. Kala Ratna Sarumpaet diperiksa polisi, mengaku jika itu operasi plastik. Semua balik badan, pura-pura lupa, dan cengengesan tanpa merasa bersalah.

Hal yang identik kini terjadi. Skenario lebih buruk. Ditembak, jelas sangat mungkin adalah aparat, sasarannya sangat jelas. Ke mana tujuannya. Masalahnya adalah, ini zaman media sosial, penegak hukum juga risih jika salah atau melakukan pendekatan keliru.  Pemeriksaan bukti minim. Kenapa kini tidak seheboh dulu?

Pertama, pemain hoax dan media sosial kini terbelah. Ada yang dipemerintahan, dan merasa drama ini tidak penting. Penggaungan tidak cukup masif, karena masih kasak-kusuk mengenai pasangannya. Konsentrasi yang menghabiskan energi. Beda kasus Ratna Sarumpaet, semua sudah jelas, gamblang, dan pasti.

Kedua, kasus Johnny Plate meneggelamkan drama Bahar Smith. Kebetulan mau menyerang pemerintah dan pelaku ada di pihak oposan. Jadi, konsentrasi buyar dan tidak ada lagi kemampuan untuk menggoreng kisah penembakan ini lebih lanjut.  Menggunakan isu penangkapan Menkominfo sebagai kriminalisasi jauh lebih besar dampaknya, walaupun sama-sama belepotannya.

Ketiga, pengulangan yang identik, elit yang dulu kemakan isu jelas enggan mau terlibat dengan kisah yang lebih mentah ini. Mereka tetap    berhitung dampaknya. Kalau soal malu kelihatannya tidak ada.

Keempat, peta  perpolitikan hari-hari ini belum sepenuhnya terpolarisasi dengan jelas. Mau memainkan narasi apapun masih ragu, karena bisa jadi nanti menjadi teman koalisi. Sikap menunggu ini menjadikan drama Bahar Smith tidak menjadi heboh.

Kelima, risiko yang ditanggung terlalu besar dari pada dampak yang diperoleh jika mendukung keberadaan penembakan yang masih terlalu mentah itu. Pengalaman masa  lalu dan peta politik yang masih sangat cair membuat elit parpol mendiamkan itu semua.

Masih akan cukup panjang drama-drama untuk mendiskreditkan pihak lain. Demokrasi negeri  masih terlalu jauh dari dewasa dan bijaksana. Sekadar menang dan jauh lebih unggul pemilih. Mengenai jiwa sportivitas, menang dan kalah biasa itu belum menjadi habit.

Masyarakat sebenarnya jauh lebih dewasa dalam berdemokrasi. Elit-elit dan politikus minim prestasi yang lebih mengedepankan sensasi masih merasa itu satu-satunya cara. Atau memang tidak punya otak untuk berfikir?

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply