Usai Bertemu Prabowo Nyali Politik Gibran Keren, AHY Layak Belajar

Usai Bertemu Prabowo Nyali Politik Gibran Keren, AHY Layak Belajar

Walikota Solo dan sekaligus putera Jokowi ini perkembangan politiknya sangat pesat. Sebelum pelantikan bapaknya sebagai presiden, ia masih seorang yang datar, bahkan ketus. Diwawacarai itu sebuah siksaan. Eh tidak lama, dalam momen safari politik AHY, ia yang diminta Jokowi untuk menjamu. Jawabannya  jelas sebuah ungkapan politisi.

Saya yang mau bertemu Mas Agus, dan izin ke bapak dipersilakan. Sama sekali tidak akan ada yang percaya jika rekaman sebelum pelantikan 2014 itu dengan jawaban usai AHY kalah pilkada 2017. Jauh berbeda dan bertolak belakang.

Menjelang gelaran 24 ini, suhu politik yang mulai menggiliat dan menghangat, nama Gibran  bisa jadi politisi termuda yang dikait-kaitkan dengan pilpres. Bersama Prabowo yang sejak Lebaran lalu mengatakan survey Mas Gibran selalu meningkat.

Pekan kemarin menjadi titik tolak terfaktual, ketika jamuan makan malam bersama Prabowo dan relawannya mengaku mendukung Prabowo. Sontak PDI-Perjuangan meradang. Pemanggilan terjadi, mirip dengan kasus Ganjar beberapa bulan lalu.

Jawaban lugas, bahwa ia hanya makan malam, soal  deklarasi dan dukungan tidak ikut-ikut, itu sangat jelas, meskipun framing media dan tentu ada elit Gerindra yang genit menggunakan itu.  Tambahan, jika mau mengumpulkan dukungan untuk Ganjar bisa jauh lebih banyak. Nada pede yag sama ketika wawancara sebelum pelantikan Jokowi terlihat. Hal yang sangat wajar, apalagi pengalaman Gibran dianggap masih hijau  oleh elit yang memanfaatkan itu.

Pemanggilan itu dijalani dengan sangat biasa, bukan dengan konpres dan apalagi curhat dengan airmata yang biasa tersaji oleh politikus sekelas Gibran, dalam usia dan pengalaman. Merasa dizolimi, salah paham, atau tidak begitu yang dimaksudkan. Ia menjawab dengan lugas.

Politikus yang lugas. Sangat jarang bangsa ini memiliki politisi yang berani bertanggung jawab. Biasanya ngeles, minta bantuan, dan merasa benar, tanpa memiliki rasa bersalah.  Salah omong atau bersikap  biasanya ditutupi dengan arogan, menyalahkan pihak lain, dan sejenisnya.

Toh masih ada politisi muda mau bersikap demikian. Hal yang penting bagi hidup berbangsa ke depan. Warna baru, bisa bekerja, memiliki sikap tanggung jawab, dan memainkan permainan politik dengan sangat bagus.

Sama-sama pada tataran muda, AHY masih mencari bentuk dan panggung. Padahal sudah difasilitasi habis-habisan oleh pepo dan Demokrat. Sayang AHY langsung nangkring tanpa tahu susahnya menapaki jalan panjang dan terjal. Ini yang membedakan dengan Gibran. Pada level terendah, bupati-walikota dan bisa mendapatkan sorotan media, selain jelas kinerja dan prestasinya.

Politik itu butuh kematangan, dan itu hadir karena proses, perjuangan, dan kerja keras. Pembuktian itu dengan prestasi, kinerja, bukan semata narasi dan pidato politik. Panggung itu diciptakan bukan diberikan itu penting dan menjadi pembeda.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply