Politik

Belajar atas Arogansi dari Soeharto, Sudewo, dan Noel

Belajar atas Arogansi dari Soeharto, Sudewo, dan Noel

Kekuasaan yang Melenakan

Miris, duka mendalam atas meninggalnya pengemudi ojol yang dilindas mobil polisi. Demonstrasi yang berujung maut, kog jadi ingat masa lalu, 98. Mosok akan terjadi lagi, kekecewaan publik yang terakumulasi dan meledak. Begitu banyak tanda-tanda yang mirip sudah terjadi, dan tampaknya akan terus begitu.

Presiden Soeharto

Mendiang presiden kedua ini mengatakan, ora dadi presiden ora patheken, tidak menjadi presiden tidak akan eksim, penyakit kulit yang sangat memalukan. Ungkapan Jawa yang mau mengatakan, tidak masalah, namun dalam konteks jengkel, marah, dan mencemooh.

Tumbang, usai demo berhari-hari, dan gelombang dukungan dari berbagai elemen masyarakat bersatu. Ujungnya kabinet  mundur ramai-ramai, dan penguasa 32 tahun itu pun tumbang. Kerusuhan berbasis agama, suku, kesulitan ekonomi menjadi-jadi. Kondisi terjepit, dan tidak ada lagi jaan keluar, malah mengatakan kata-kata arogan.

Sudewo

Bupati yang menaikkan pajak hanya 250%, bandingkan tempat lain sampai 1.000%, namun tidak ada gejolak. Kata-kata lagi yang memicu, ketika ia mengatakan, jangankan 5.000, 50.000 pendemo, saya tidak takut. Duar, meledak demo besar-besaran, dan ujungnya panik sendiri, dewan pun bergerak dengan pansus.

Mejen karena kekuatan daya mulai reda, namun aksi reaksinya jelas. Bagaimana arogansi itu dibalas dengan sangat telak. Massa menekannya dan ia harus “mempertahankan” kekuasaannya. Tidak sembarangan kemarahan massa yang mulai terakumulasi.

Noel

Kisah tragis, yang memilukan. Sebagian besar netizen melabelinya dengan penjilat. Kala taggar kabur aja dulu dia respon dengan kabur sana tidak usah balik, kini menjadi bumerang.  Dia kini tumbang, OTT malah, tragis. Merengek-rengek untuk bisa dibantu, malah dijawab bukan kader partai. Padahal bagaimana dia selama ini membela Prabowo dan partai barunya?

Arogansi dan Balasan Semesta

Negeri ini penuh dengan ujaran religius.   Bertebaran kata-kata dan ayat suci, namun berkebalikan dengan perilakunya. Lebih banyak kata-kata negatif, arogan, sombong, dan jumawa. Padahal ini adalah jelas bukan berasal dari iman yang mendalam. Sikap beriman itu pasti teduh, rendah hati, kasih, dan menenteramkan. Bagaimana bisa orang beriman sekaligus arogan dan beringas?

Semesta menjawab dan memperlihatkan dengan gamblang, bayaran tunai, tidak menunggu dunia setelah kematian, namun saat itu juga. Apakah masih kekeh dengan kekuasaan dan arogansi yang itu-itu saja, karena banyak teman?

Teman banyak sekadar uang, kursi, jabatan. Ingat bagaimana Pak Harto merana di dalam kamar sendirian, semua loyalisnya ilang. Beda dengan Bung Karno yang diisolasinya dulu. Sikap batin itu menentukan, bagaimana semesta memberikan imbal balik. Sepadan.

Perilaku jauh lebih penting dari pada kotbah di mimbar-mimbar, yang sering cenderung basa-basi, sekadar ucapan kosong. Tindakan itu teladan, dan bangs aini cenderung kurang memberikan contoh konkrit.

Salam Penuh   Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *