Gemoy, Gibran, dan Fakta Politikus Hari ini

Gemoy, Gibran, dan Fakta Politikus Hari ini

Makin dekat pilpres, kampanye sudah dimulai, debat kandidat pemimpin negeri di beberapa tempat dan kesempatan sudah dilakukan. Fakta disajikan dengan gamblang apa yang terjadi dan faktualisasi di balik tampilan. Toh, konon politik itu 10% rasio dan 90% emosi. Beberapa kali gelaran pilpres ataupun pilkada kog mendekati kebenarannya.

Salah satu yang paling menarik adalah pasangan Prabowo-Gibran. Menjadi bahan perbincangan karena perangai mereka yang di luar kebiasaan. Mereka seolah saling menelorkan kelucuan untuk menjadi bahan perbincangan, atau memang hanya segitu yang ada di dalam keduanya.

Gemoy, sebenarnya mau menegasikan bahwa Prabowo itu tua dan renta, banyak video beredar ia berjalan dengan tongkat. Fakta yang mau dinyatakan, bahwa ia muda, sehat, dan layak menjadi presiden gemoy yang lebih cocok untuk anak-anak dan remaja, gemuk, lucu, dan lincah itu bukan gambaran utuh Menhan RI saat ini. Hal yang sebenarnya jauh dari ilustrasi itu.

Gibran. Apakah ini benar kata Jokowi bertahun lalu, yang mengatakan ia tidak cocok sebagai politikus. Lebih pas sebagai pengusaha. Hal ini ada dalam beberapa indikasi, terutama selama masa pilpres ini.

Pertama, jarang ia mau tampil di muka public untuk berdebat. Beberapa kali malah jawaban atas pertanyaan diskusi memperlihatkan gaya diplomasi dan cara berkomunikasi sangat kaku. Beberapa contoh soal sampah ia jawab kan ada buku, kenapa harus menerangkan. Atau pekerjaan yang tersedia, dan ia mengatakan jadi pengusaha. Nah dari sana, poin berikut berlanjut.

Kedua, partial, ia belum bisa berpikir holistik. Pemimpin benar tidak perlu semua tahu dan paham, namun minimal mengerti dan bisa membahasakan dengan sederhana, lihat model Jokowi, ia paham banyak hal. Kemampuan komunikasi dan juga diplomasi tentu saja.

Ketiga, memperlihatkan apa yang Jokowi nyatakan, kemampuan Gibran belum saatnya, dan juga tidak pas di dunia politik. Lihat saja cara bersikap dan menjawab atau merespons pertanyaan. Hal yang jelas akan menjadi makanan empuk bagi pihak lain.

Empat.   Memperlihatkan mutu Gibran jauh lebih cepat. Selama ini orang hanya mengandaikan, dan mengasumsikan bahwa anak Jokowi dan bapak Jan Ethes ini identik dengan presiden RI ke tujuh. Eh ternyata tidak. Publik jadi paham, Gibran bukan Jokowi dan tidak akan pernah bisa begitu.

Lima, pengalaman itu juga menentukan, mau darahnya seperti apa, tidak akan berpengaruh pada kemampuan dalam banyak bidang. Itu bukti dan fakta.

Publik disuguhi kemampuan  asli cawapres 24 itu dengan pasangan yang cuma jogad joged, yang bisa diartikan sebagai apa bukan? Jelas, cetha wela-wela seperti apa keberadaan mereka.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan