Duplikasi Kampanye ala Prabowo

Duplikasi Kampanye ala Prabowo

Kemarin, pilpres lalu, Prabowo menjiplak slogan Donald Trump, dengan Make America Great Again, adaptasinya Make Indonesia Great Again. Presiden Amerika Serikat pun bisa menjabat, menang dalam pilpres. Prabowo kalah lagi.

Kini, kelihatannya mendompleng alias menjiplak apa yang telah Bongbong Marcos. Apa yang dilakukan dengan goyang gemoynya itu. Apakah akan mengulangi apa yang telah gagal di 2019?

Kemungkinan Kembali gigit jari itu masih lebih besar, karena beberapa hal berikut;

Pertama, Prabowo hanya menjiplak cara menang, bukan cara meraih kemenangan. Padahal menang itu perlu proses. Selama ini ia hanya mengambil apa yang telah orang peroleh. Bagaimana bisa begitu? Ketika menjadi menteripun kegagalan yang ia tampilkan.

Kedua. Meniru itu boleh, namun bukan untuk satu-satunya cara.   Bagaimana bisa hanya menggunakan cara kampanye, slogan dalam membrandingkan diri, tanpa tahu maksud dan makna terdalamnya diambil begitu saja? Toh ada spirit, roh, dan semangat yang tidak bisa begitu saja diambil alih dan dijadikan alatnya.

Ketiga, nama koalisi juga menjiplak nama kabinet Presiden Jokowi.  Lagi-lagi ngandalkan duplikasi. Apa sih implikasinya?

Keempat, bahwa orang ini tidak memiliki kemampuan. Sudah ditunjukkan Ketika menjadi menteri, pun saat di dunia militer pun sebenarnya banyak yang tidak percaya, tanpa ada kekuatan Cendana, Presiden Soeharto, dia bisa jadi bukan juga tantara moncer.

Kelima. Otentik itu jauh lebih bernilai dan bermutu. Toh Prabowo malah memilih duplikasi dan itu bukan hanya sekali atau dua kali, malah berkali ulang. Jelas artinya apa.

Keenam, tidak ada visi dan juga misi, selain kekuasaan. Jelas sangat berbahaya dan mengerikan model pemimpin demikian. Bagaimana bisa menjadi pembawa perubahan dan kemajuan, selain kemandegan dan malah bisa-bisa mundur.

Ketujuh, rekam jejaknya memang tidak cukup meyakinkan, selain menduplikasi atau menjual gagasan pemenang lain sebagai sebuah retorika. Miris sebenarnya, Ketika menjadi pejabat publik dan sukses itu adalah modal besar untuk promosi.

Dasarnya memang bukan seorang pemimpin, hanya pemimpi besar yang   kebetulan memiliki banyak pengikut buta. Pemuja yang hanya mencari manfaat dan kepentingan sendiri.

Apa iya layak dipilih menjadi pemimpin jika seperti itu? Jelas bukan jawabannya.

 

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan