Ndasmu Etik, Gemoy, dan Karakter Prabowo

Ndasmu Etik, Gemoy, dan Karakter Prabowo

Menarik apa yang tersisa dari debat capres 24 kemarin lalu. Bagaimana kisah kampret, umpatan Prabowo kala itu terulang. Kali ini jelas lebih terbuka, vulgar, dan menampilkan sisi spontan, namun emsional itu tidak terkendali.

Kampret itu umpatan terselubung, karena mengira microphone sudah mati. Kali ini, ndhasmu etik itu jawaban atas pertanyaan kompetitor. Artinya jelas ia sadar dan memang marah, minimal kecewa atas pertanyaan itu.

Ada pembelaan bahwa ndhasmu itu sebagai ungkapan biasa, candaan, bahkan keakraban. Bisa ditelaah konteks dan teksnya. Hampir semua umpatan itu bisa bermakna ganda, ungkapan keakraban sekaligus juga umpatan amat kasar. Di sinilah teks dan konteks itu berperan memberikan pemaknaan.

Teman ngobrol kemudian ada yang minta uang atau rokok, dijawab rokok, uang ndhasmu kui, aku dhewe ra duwe,  rokok, uang, ndhasmu itu, aku sendiri tidak punya. Itu jelas bentuk keakraban, apalagi ditambah dengan Bahasa tubuh nelangsa, dan senyum kecut.

Konteks Prabowo ini tidak ada nuansa itu, bagaimana ia terdesak atas pertanyaan capres lain, yang ia paham dengan baik, bagaimana isu itu selama ini sudah beredar. Pertahanan diri yang bisa ia lakukan mengumpat.  Menggebrak podium lagi jelas ia sudah paham itu kartu mati. Timnya pasti sudah wanti-wanti untuk tidak melakukan itu.

Joget? Asti sudah tidak ingat, blank dan paling spontan, dasariah, alamiah, mengumpat. Apa yang terontar itu kebiasaan. Berarti selama ini memang Prabowo itu orang yang emosional, bahasa gaul e    ngamukan. Minimal dengan mengumpat.

Miris ya sebagai seorang calon presiden, pemimpin negara, yang pastinya akan banyak mendapatkan tekanan, serangan, dan juga bahkan makian, jika tidak kuat menghadapinya. Apa yang dilakukan dengan jogednyanya selama ini ternyata masih belum cukup untuk mengendalikan sisi emosional dan juga ngamukannya pribadi capres ini.

Mau membangun citra, tenang, santun, lucu, dengan jogged gemoynya eh malah di depan public, acara resmi malah menampilkan sisi aslinya. Perjuangan membuat citra alim, tenang, dan kalem itu hancur berantakan.

Ketenangan. Kunci menghadapi tekanan pihak lain. Miris ya militer model seperti ini, bisa jadi senggol bacok terjadi. Mudah tersulut emosi, dulu muncul pentol korek yang tersentuh nyala. Tidak ada otak yang memproses itu dulu. Spontan yang buruk.

Tidak tahan tekanan. Model jogetnya masih belum cukup mengendalikan sisi emosionalnya yang memang harus diakui sangat tinggi.

Apa iya pribadi model demikian layak memimpin negeri yang segede ini, seribet, dan seribut negeri ini? Keknya gak deh.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan