Viral, Gemoy, dan Media Sosial

Viral, Gemoy, dan Media Sosial

Menarik apa yang dilakukan tim pemenangan Prabowo-Gibran, tercipta istilah gemoy dan joget Prabowo yang menjadi viral. Toh meskipun timnya membantah bahwa itu setingan, terbentuk karena netizen, suka atau tidak, publik juga paham, bahwa itu diciptakan, bukan alamiah. Bedakan dengan gaya blusukan ala Jokowi dulu. Natural, tidak dibuat-buat, dan memang itu yang dilakukan.

Gemoy dan viral ini bukan alamiah, tandanya adalah, tiba-tiba, tidak ada konsistensi, dan yang penting menjadi perbincangan. Coba jika ada aksi nyata yang senada, misalnya dating waktu debat di kampus-kampus, dan bisa menjawab dengan sangat baik. Misi dan visi yang jelas atas kepemimpinannya, tidak hanya sekadar tenar, viral, dan joget gemoynya.

Pada sisi lain, di deket sono, ada perempuan muda yang depresi karena demam medsos, tiktok, namun tidak mendapatkan support, tanggapan, dan juga respons yang sepadan. Ia telah melakukan siara langsung pagi-siang-malam, namun pengikutnya masih saja tidak beranjak. Ini yang menyebabkan depresi.

Kadang, orang tidak tahu dengan baik, bahwa media social itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Butuh perjuangan dan ada trik-trik khusus untuk bisa menjadi bahan perbincangan. Memang ada satu dua yang bisa, toh itu hoki, keberuntungan, dewi fortuna, dan apakah bisa dijadikan rujukan atau pedoman bahwa semua bisa? Tidak. Di dunia nyata juga demikian kog.

Hal ini yang perlu menjadi kesadaran bersama, bagaimana dunia maya itu tidak semudah yang terlihat. Begitu banyak usaha dan upaya untuk bisa menjadi gede. Apalagi kalau yang ditonton, jadi rujukan, atau menjadi idolanya kelas artis, selebritas yang sudah punya nama. Mereka, maaf, kentut    atau bersendawa saja sudah akan banjir dengan jempol dan komentar.

Fenomena ini yang perlu mendapatkan literasi, pendidikan, pemahaman, dan juga pengetahuan, oleh elit, orang yang lebih paham, bukan malah ikut-ikutan menjadikan itu sebagai sarana menggaet pemilih. Miris sebenarnya, ketika pemimpin malah ikut-ikutan untuk menggunakan cara semu seolah fakta itu.

Pemimpin itu memberikan contoh baik, bukan malah mengadopsi apa yang sedang trend dan diikuti. Jika demikian pemimpin itu buruk, sekadar pengekor, pengikut, bukan pencipta trend dan menjadi rujukan. Apa bedanya dengan orang kebanyakan.

Apa yang terjadi pada Prabowo tidak berubah. Sejak kampanye dulu kala selalu saja dengan ciptaan aneh-aneh yang tidak mendasar. Sama sekali tidak menunjukkan hasil yang signifikan, kalah lagi dan lagi. Karena ya memang tidak memiliki visi besar. Prestasi bukan sensasi. Setia pada proses, bukan ujug-ujug menjelang pilpres baru nongol.

Mana sih rekam jejaknya yang memberikan bukti bahwa ia mampu dan layak menjadi presiden? Tidak ada satupun. Malah nongol satu demi satu litani kegagalan. Apa iya mau presidennya itu orang yang tidak memiliki kapasitas?

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan