Kala Ibas, Kehilangan Hapalannya
Kedua, terlalu banyak beban kerja yang ia tidak sanggup. Selain poin di atas, juga soal kapasitas. Ketua fraksis, anggota badan anggaran, masih pengurus partai pula. Ini bukan sembarangan. Kala tidak ada minat, plus kemampuan, ya wasalam.
Ketiga, jika demikian, bisa menjadi jelas, gamblang didikan yang ngaco ala SBY. Memaksakan kehendak pada anak. Ini jelas buruk. Citra keluar keren, ke dalam amburadul.
Keempat, karakter personal yang lemah. Kan bisa berbicara, Po aku tidak minat dan jadinya tidak akan mampu, aku ingin bisnis. Selesai. Mosok tidak bisa. Bagaimana model demikian bisa menjadi pemimpin.
Kelima, pantas, AHY apalagi Ibas itu kelihatan tidak bebas. Tampak tertekan, senyumnya tidak lepas. Sangat mungkin karena tekanan dari orang tua.
Biasa orang tua menjadi penekan luar biasa untuk anak menjadi kebanggaan orang tua. Harus taat, menjaga nama baik, dan sebagainya.
Ealah malah kehilangan hapalan, padahal lagi krusial. Ada krupuk ada sandal, mau umuk eh kagak apal.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
