Jarik dan Kain Batik ala Anies Baswedan Capres 2024

Apa iya Anies Baswedan tidak tahu antara kain batik dan jarik atau kain yang dipakai laiknya sarung itu berbeda? Kain yang bercorak batik itu lain dengan kain dalam arti jarik atau penutup bagian bawah bagi perempuan yang mengenakan kebaya atau juga bagi pria yang berbeskap.

Terus apa maksudnya ia menyoal bahwa kain yang biasanya dipakai untuk penutup bawah kog digunakan sebagai baju atau bahkan menjadi pakaian nasional? Unsur kesengajaan.

Mengapa demikian?

Panggung dia sudah makin sempit. Berkali ulang, sikap mahasiswa dan juga masyarakat umum melakukan penolakan dengan sangat vulgar. Tidak ada tedeng aling-aling. Ini kalkulasi politik tentu sangat menghawatirkan. Di tengah stagnasi keterplihan dan rilis survey yang tidak demikian menggembirakan.

Ungkapan mencuri start makin menguat. Aktivitasnya lebih susah karena hal ini. Safari yang belum memberikan dampak siginfikan. Malah bisa jadi ada peringatan yang sangat merugikan.

Koalisi yang digagas dan digadang-gadang Nasdem dan khususnya Surya Paloh, belum mendapatkan titik terang sama sekali. Malah cenderung mencair tanpa kepastian. Apa yang ia ucapkan itu agar menjadi polemic dan bisa menarik ingatan bahwa ia adalah capres.

Berkali ulang ia menciptakan berita dengan model kengacoan yang seperti itu, pemilihan diksi, kata, kalimat, dan juga ungkapan yang menebarkan perselisihan. Ingat pidato pelantikannya ia menggunakan kata pribumi.

Berkali-kali juga ia mengaku pribumi, Jawa, Caruban, Kuningan, dan keanehan yang lainnya. Ini semua jelas sengaja. Soal keturunan itu kan pasti. Atau juga mengatakan akan menggebuk aksi intoleransi. Padahal public juga paham siapa-siapa di balik dia menang di pilkada DKI 2017.

Batik  dan jarik dipakai untuk pansosnya dengan membenturkan budaya yang sudah pakem dengan apa yang ia pandang sebagai sarana politik. Ingat soal polemik naturalisasi dan normalisasi, rumah susun dengan  rumah lapis, semua hanya omong kosong yang tidak ada artinya, apalagi hasilnya.

Pengulangan yang sama-sama membuat heboh namun tidak ada makna dan manfaatnya. Politik cemar asal tenar ternyata masih satu-satunya andalan untuk menaikan keterpopuleran. Miris jika orang begitu dijadikan pemimpin.

Jangan terkecoh dengan permainan kata orang yang tidak bisa bekerja. Saatnya politikus pekerja dan berprestasi, bukan politikus banyak janji dan kata-kata kosong tanpa makna.

Negara ini sudah pada jalur menuju kemajuan yang sangat tepat. Jangan diberikan pada  calon pemimpin  yang hanya menimbulkan polemic dan debat kusir. Memalukan dan malah mundur kea bad lampau lagi.

Memang ini antithesis Jokowi. Tipe banyak omong nol kerja. Wacana wacana wacana bukan kerja kerja dan kerja.  Mau memilih pemimpin begitu?

Salam penuh kasih

Susy Haryawan

 

Leave a Reply