Jokowi Sama dengan Soeharto, Mikir!!!

Menarik, apa yang dilakukan elit sebuah LSM, kala membuat meme, Jokowi bersanding dengan Soeharto. Malas riset dan mencari kelahiran tahun berapa si bocah LSM ini, karena begitu naifnya menampilkan dua presiden itu dalam satu frame.

Siapapun yang lahir palimg lambat, 1985 akan paham, sudah jernih merasakan betapa beratnya hidup dalam alam Orba. Apalagi jika bicara kebebasan berpendapat. Hanya menampilkan drama dengan judul SUKSESI, ingat teater dengan judul seperti itu sudah dibredel. Esoknya sudah tidak ada lgi penampilan.

Apalagi mengatakan presiden, Soeharto waktu itu dengan raja utang, plonga-plongo, diktator, pasti habis, tinggal nama. Orang menyebutkan namanya saja sudah jerih karena akan  bernasib yang sama. Hilang dari peredaran.

Belum lagi media, lihat dicari juga banyak, bagaimana Monitor dengan Arswendo almarhum harus masuk sel, medianya dibredel hanya karena nama Soeharto ada di peringkat bawah, bukan teratas. Bandingkan media sekarang, Presiden Jokowi digambarkan sebagai pinokio, tokoh kartun pembohong.

Belum lagi media online, berita ditambah opini seperti apa kelasnya terlihat jelas. Mana mungkin era Soeharto dengan mental   menteri penerangan penjilat ala Harmoko  bisa seleluasa menghina, menghujat, dan mencaci maki Jokowi sebagai pribadi.

Bos serikat pekerja saja bisa seenak udelnya menuding-nuding Jokowi, mana berani zaman Soeharto. Lha buruh saja cuma diam. Apalagi berani membuat serikat, ketua serikat atau federasinya mana berani menyuarakan kayak sekarang.

Sokk kritis dengan dalih UU Pers dan kebebasan berpendapat yang munafik, karena tidak ada sikap tanggung jawab. Berani bicara juga harus menanggung risikonya, apalagi jika itu adalah fitnah.  Miris, ketika mengaku agamis, religius, dikit-dikit penistaan agama, maunya ibadah terus menerus, namun sekaligus juga melakukan kebohongan, bahkan fitnah dan memutarbalikkan fakta sekaligus dengan mulut yang sama.

LSM-LSM itu ke mana di era yang lalu-lalu, ke mana ketika Hambalang mangkrak, mosok buta, sampai saat ini juga masih ada. kog tidak ada yang teriak? Atau karena kenyang? Kini kelaparan kemudian maruk dan meradang?

Percuma mengaku aktifis, pembela ini dan itu yang ujung-ujungnya uang. Jika berani membuka sumber keuangan kalian, salut jempol dan ikutin kalian. Berani tidak? Jangan sok  kritis padahal bau amis.

Menjual bangsa demi gaya hidup sendiri, munafik.  Gak takut beri makan anak-anak dengan uang dengan menjual kebohongan di atas nama membela rakyat dan keadilan, padahal bohong?

Salam penuh kasih

Susy Haryawan