Kala AHY dan Demokrat Tantrum

Kala AHY dan Demokrat Tantrum

Tantrum itu kondisi di mana anak-anak ngambeg, marah, menangis, meraung-raung, kadang dengan berguling-guling di lantai. Kemarahan campur ceri perhatian, wajar dilakukan anak-anak. Orang tua atau pihak dewasa diharapkan untuk “membiarkan”. Tidak usah direspons berlebihan, apalagi dirayu dan dijanjikan apa yang dimaui.

Contohnya, jika si anak itu tantrum mau main games seharian, padahal sudah harus belajar untuk sekolah, mekanisme untuk memaksakan kehendak dengan tantrum.  Sekali diizinkan, atau dibiarkan apa yang dia mau, konsep tantrum akan terus terulang hingga besar atau dewasa. Tentu saja bukan dengan berguling-guling.

Apa yang sering SBY tampilkan, dengan konpres yang paling fenomenal ya 2016, ketika mengatakan demo sampai lebaran kuda hal yang lumrah ketika menyoal kasus Ahok. Seolah bahwa negara, pemerintahan Jokowi antidemo.

Pun ketika mengatakan bahwa dia mendapatkan informasi pemilu 24  akan ada kecurangan. Padahal pada saat ia berkuasa ia mengatakan, bahwa tuduhan kecurangan itu biasanya dilakukan oleh si penuduh. Pelaku yang menerakan itu pada pihak lain. Hal yang   menuding dirinya sendiri?

Eh kini, si anak, putera mahkota, emangnya kerajaan Hambalang atau Cikeas, kog merasa kalau bapaknya presiden anaknya juga kudu presiden? AHY mengatakan, bahwa negara tidak baik-baik saja, padahal warganet memberikan tayangan bagaimana keluarganya belanja dan mengadakan pesta pora.

Atau ketika ia megatakan bahwa hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Apakah ia lupa bagaimana ketika pepo berkuasa begitu banyak kasus korupsi dan juga kasus-kasus lain yang menyebut adiknya sama sekali tidak disentuh oleh hukum? Janganlah songong menghardik ppihak lain, padahal di dalamnya juga keropos.

Kini, malah mengatakan bahwa negara perlu perubahan, apanya yang mau diubah, biar mangkrak proyek sampai ke dusun-dusun itu? Kini pembangunan itu merata, bahkan sampai ke sudut-sudut kampung. Coba tengok dan jalan-jalanlah, dari desa ke desa, bukan hanya di balik istana Cikeas atau mobil mewah.

Mengancam koalisi yang tidak jelas, jika sampai Juni belum juga “jadi bacawapres” maka akan memilih opsi yang lain. Pertanyaannya, memang ada opsi lain?  Mengapa sesengit itu?

Pertama, Demokrat itu partai kecil sekarang. Tidak cukup punya daya tawar, jika minta menjadi bakal calon wakil presiden memang selain Anies Baswedan ada gitu yang mau? Partai-partai lain lebih memilih calon lain yang lebih menjanjikan.

Kedua, keberadaan AHY sangat lemah. pernyataan Anies Baswedan sendiri jelas dan gamblang, tidak cukup membantu pasangan itu jika maju bersama. Terang banget, bahwa ia sangat tidak diharapkan. Merasa bisa dan pantas itu berbeda dengan bisa merasakan, tahu diri.

Ketiga, kekayaannya yang tidak jelas itu, pastinya eman jika digunakan untuk membeayai pencapresan. Enggan bermodal banyak namun maunya dapat besar-besaran. Mana ada sing makan siang yang gratis.

Keempat, merebut kekuasaan dan keberadaan Demokrat dengan segala catatannya tentu membuat partai besar enggan ikut merasakan dampaknya. Apalagi kini sedang menghadapi sidang PK atas tuntutan kubu Moeldoko dkk.

Kelima, bebasnya Anas Urbaningrum tentu membuat keberadaan AHY yang memang tidak cukup kapasitas itu ketar-ketir. Tidak usah bicara kriminalisasi, soal kemampuan berpolitik AHY saja sudah tidak cukup menjanjikan.

Mau tantrum kek apapun, tetap saja tidak cukup membuat orang berpaling. Lha koalisi yang mau bersama-sama saja gedeg dan mengatakan, tidak usah membuat gaduh, kata Nasdem. Belum lagi kata PKS dan calon lain yang bisa saja sama jengkelnya.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan