Mengeroyok Megawati dan PDI-P

Mengeroyok Megawati dan PDI-P

Perpolitikan nasional makin memanas. Usai deklarasi Nasdem yang tidak beranjak, kemarin dalam momentum Ramadan, Presiden Jokowi dan para ketua umum partai pendukung pemerintah berkumpul, minus Surya Paloh dan Megawati.

Setelah acara, PDI-P mengatakan, bahwa itu sama dan sebangun dengan gagasan mereka. Pihak partai banteng juga menginisiasi untuk berkomunikasi dengan koalisi besar, belum ada nama pasti. Aksi yang membuat partai pemenang pemilu ini berpikir ulang untuk jemawa sebagaimana selama ini.

Benar PDI-P mampu berjalan sendirian dalam mengusung pasangan capres dan cawapres dengan perolehan suara di DPR RI. Toh mereka juga paham, bagaimana 2004 atau 1999 sebagai pemenang pemilu mereka dipecundangi partai-partai lain untuk bisa menjadikan Megawati sebagai presiden. Pengalaman buruk yang jelas traumatis.

Mereka tentu tak ingin terulang keadaan buruk tersebut. Pengalaman 2014 mereka menang pemilu legeslatif dan juga pilpres, di Senayan mereka dipecundangi KMP. Kursi pimpinan disapu parpol kalah pemilu. Tentu saja itu menghambat kerja eksekutif ketika harus banyak bekerja sama atau bahkan mutlak mendapatkan persetujuan dewan.

Posisi benar besar suara banteng moncong putih ini, tetapi toh masih juga kalah dominasi dengan lebih kurang 80% suara partai lain. Jika mereka  menang pilpres mereka keok di Senayan juga mau apa. Faktanya demokrasi negeri ini masih pokok e, ngotot dan nyolot, bukan demokrasi yang bermartabat. Maunya menang saja. Kalah tidak terima dan main boikot atau membuat kisruh.

Kondisi ini jelas menjadi bahan pertimbangan Megawati dan jajaran PDI-P untuk berpikir masak-masak jika mau memaksakan diri maju sendirian. Belum lagi berhadapan dengan Koalisi Perubahan yang belum juga terbentuk. Mereka jelas juga memperhitungkan itu, bukan mengabaikan, apalagi rilis survey tetap saja demikian adanya.

Surya Paloh yang tidak ada di dalam kebersamaan koalisi besar tentu tidak mengagetkan. Deklarasi sejak dini calonnya yang digembar-gemborkan antitesis Jokowi kemudian diralat akan meneruskan agenda pembangunan Jokowi, toh tidak cukup meyakinkan publik bahwa antitesis Jokowi itu jelas lebih gede.

Di balik itu beberapa drama lain mengikuti. Perpindahan Sandiaga Uno ke PPP ikut mengubah warna yang bisa terjadi. Apa yang  mau disasar dengan perpindahan itu? maju sebagai capres atau wapres lagi? Di Gerindra jelas tidak mungkin, karena pengalaman 2019 sudah terbukti. Prabowo tetap maju lagi.

Pun dengan Demokrat AHY yang menghadapi PK dari kubu Moeldoko dan kawan-kawan. Hal yang tentu saja membuat ribet konsentrasi mereka. Pencalonan yang masih serba sumir, belum jelas seperti apa, eh ada PK. Ada pula kebebasa Anas Urbaningrum yang tidak bisa dianggap sepele oleh kubu Demokrat dan AHY.

Ada kuda hitam Mahfud MD dengan manufer membongkar dugaan korupsi yang demikian masif. Ini tentu saja naif jika mengatakan tidak berkaitan dengan pilpres mendatang.

Peta politik 24 masih sangat dinamis, belum ada titik poin jelas siapa mau jadi apa, parpol mana yang maju sebagai leader atau hanya ikutan. Semua masih saling menunggu dengan kalkulasi masing-masing.

Makin dekat 24 makin asyik karena memang belum ada calon yang sangat aman dengan keberadaan partai dan elektabilitasnya.   Sosok Jokowi yang memiliki kapasitas, tidak punya partai yang akan memudahkan langkahnya. Megawati yang memiliki partai gede toh terkendala juga untuk bisa percaya diri untuk melangkah.

Salam Penuh Kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply