Tanpa FPI Anies Baswedan Menyerah
Kehabisan kolega, dengan langkah berat MRS memasuki Mapolda Metro usai dua kali mangkir dan menewaskan enam anak buahnya. Semua berakhir dan awal tahun mulai pembekuan rekening-rekening mereka, sehingga sepi dari segala aksi yang mengatasnamakan mereka. Demi pembelaan Rizieq pun batal. Sidang praperadilan sepi, dan hasilnya juga ditolak, lanjut ke peradilan.
Kondisi ini, kekuatan riil Anies ada di Petamburan, tanpa mereka ia seperti boneka tanpa isi, lemes dan lunglai. Kekuatan untuk mempertahankan diri dan jabatan itu ada pada kekuatan FPI, sama juga kemenangan karena upaya dan agitasi mereka.
Menyerah menangani covid itu jelas tidak mengagetkan, namun sebuah pengakuan yang tidak dengan rela atau mau tidak mau harus diakui. Memang sejak awal Anies tidak memiliki konsep, asal berbeda dengan pusat seolah itu prestasi. Kini, ketika pusat memang tepat pada jalurnya, ia sudah kehabisa upaya. Apalagi memanfaatkan ini menjadi panggung politik. Habis sudah panggung yang maunya ia miliki dan menangi.
Maunya adalah mementahkan program pusat dan menjadikan pemerintah tidak dipercaya, siapa tahu mereka di antaranya Anies atau salah satu bohir bisa mengambil kekuasaan. Ketika kaki seribu mereka semua terpangkas, hanya meninggalkan badan, ya sudah selesai.
Kerja keras, cerdik, dan penuh kehati-hatian, membuat MRS masuk bui dan semua pelaku yang biasa bersama-sama mulai kehilangan jalan dan cara untuk sekadar mengamankan diri. Ada kecenderungan mereka kini memainkan narasi menggigit kawan asal mereka aman. Dengungan pembelaan untuk MRS dan FPI juga makin sunyi. Hanya beberapa ring satu yang juga makin kepayahan.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
