Banjir, Menghajar Ganjar dan Mengiris Anies
Ketiga, soal pernyataan dan perilaku dalam pemerintahan dan berwacana. Ini yang cukup besar perbedaannya, cenderung bertolak belakang. Ganjar yang memang tidak memiliki catatan langganan banjir jelas tidak banyak menyatakan konsep menangani banjir. Karena memang tidak menjadi prioritas masalah banjir di Jawa Tengah.
Mengatakan air harus dimasukan bumi, bukan membuat kanal, atau berpolemik mengenai semata istilah normalisasi atau naturalisasi. Tidak ada polemik dan wacana model demikian di Jawa Tengah ataupun Semarang.
Ganjar juga tidak pernah menyoal pemimpin sebelumnya, karena soal banjir bukan masalah umum di Jawa Tengah. Masih ada priorotas lain yang lebih besar. Pemerintahan itu berkelanjutan bukan hanya keakuan semata. Pembeda yang cukup jelas.
Perbedaan lainnya, tidak ada perbandingan yang mencolok era Ganjar dengan era Bibit, zaman Ismail sekalipun. Mau dipersoalkan bagaimana lagi, karena perkembangan pembangunan Semarang itu sangat jelas. Perbedaan mencolol bahwa ada pemimpin yang bekerja membangun kota.
Itu alasan di mana publik kemudian mengejar Anies Baswedan dan tidak dengan Ganjar Pranowo. Ini tidak bicara soal dukung atau tidak suka. Sama sekali tidak ada. Lihat fakta di atas itu semua logis, jangan nanti bicara karena tidak suka. Jika berkomentar demikian, tunjukan mana yang salah dan lebih benar.
Konsekuensi logis bagi Anies Baswedan yang sering bicara di depan publik dan media. Dengan banyak pernyataan dan omongan, termasuk narasi, orang layak menagih, ketika kenyataan yang ada di depan mata berbeda sangat jauh dengan apa yang dinyatakan.
