Banjir, Menghajar Ganjar dan Mengiris Anies
Lebih baik, bijaksana, dan pas, itu bukan bicara pemimpinnya sudah berbuat apa, namun perilaku kita masing-masing, di dalam menjaga lingkungan. Ingat ini mengenai banjir, peran manusia cukup besar. Pohon jelas makin sedikit, lha di kampung saja orang sudah ogah menanam karena enggan kotor, bukan karena lahan tidak ada.
Kebiasaan membuang sampah ke got yang akan hanyut ke sungai. Ini penyakit klasik yang entah kapan bisa terselesaikan. Budaya nyampah yang memilukan, karena hampir semua lapisan masyarakat menjadi pelaku. Membuang sampah sembarangan.
Menutup alur sungai demi pembangunan pribadi. Cek di sekitar masing-masing, kisaran 10 tahun ke atas, apakah sungai atau gotnya sama dengan hari ini? Jika iya bagus, namun kog tidak yakin masih seperti dulu keadaannya.
Pembangunan tanpa perawatan. Ibukota kecamatan minimal, sudah ada pemasangan got permanen dengan kotak cor. Namun, apakah pernah dibersihkan? Apalagi bicara rutin. Lagi-lagi ini sikap mental. Bagaimana memperbaiki sikap batin dan perilaku masyarakat agar lebih baik.
Egoisme kelompok. Lihat saja orang-orang membangun dengan membuat talang yang dibuang ke jalanan. Air meluap ke mana-mana tidak masuk ke got, bahkan banyak pembangunan jalan tanpa membuat got yang cukup layak.
Jalan lingkar, jalan tol baru, atau perumahan baru biasanya membuat bencana banjir di kawasan sekitarnya. Pengalaman-pengalaman yang terus terulang. Terlupakan atau terabaikan ketika musim kemarau.
Ribut ketika kejadian, namun tidak pernah mengubah kebiasaan. Menyoal pimpinan tanpa mau mengganti kebiasaan. Padahal jika mau sedikit saja mencoba bebenah bukan tidak mungkin ada perubahan.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
