AHY Tuding Istana Mau Kudeta Demokrat
Apa yang terjadi hanyalah,
Upaya menarik perhatian publik. Panggung telah terenggut dengan luar biasa. FPI bubar, polemik Abu Janda, sama sekali tanpa melibatkan AHY dan Demokrat. Kek anak kecil yang merengek ketika tidak mendapatkan perhatian karena orang tuanya sibuk.
Apa yang dilakukan memperlihatkan kapasitasnya memang tidak pantas jadi pemimpin. Keberadaannya menjadi ketum karena “warisan” bukan perjuangan. Sama sekali mentah di dalam proses politik. Tidak akan bisa gede kalau tidak mengalami yang namanya proses.
Memperlihatkan permasalahan internal yang tidak mampu dikuasai, namun malu dan enggan mengakui. Hal yang lumrah sebenarnya dinamika politik demikian. Sayang malah menyerang Jokowi, yang tidak pada tempatnya.
Jika benar itu adalah kudeta, ya sebenarnya pas. Bagaimana Demokrat itu milik publik mengapa menjadi milik Yudoyono sendiri? Ini masalahnya. Dulu kan bukan buatan SBY seperti Gerindra atau Hanura. Perlu diingat, beberapa pihak pernah mengggugat hal itu. Wajar sesama pendiri untuk mendapatkan porsi yang sama.
Sejarah berulang dan konsekuensi itu harus ditanggung. Ujian sangat bagus sebenarnya, berani bertarung dan menang, jauh lebih memberikan nilai lebih, sayang, belum-belum malah menampilkan sisi lemah sendiri.
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan
