Kisruh di Tengah Pengaruh 3 C
C Kedua, lagi-lagi ini pernah menjadi presiden.
Identik dengan C pertama, kemampuan sih biasa, hanya karena memainkan narasi perempuan tidak boleh memimpin, ia bisa menjadi presiden. Kebijakan penggantinya sebenarnya tidak akan membuatnya keseret pada masalah berlebihan. Hanya karena malu kinerjanya jeblok dan menghendaki sang putera masuk lingkaran elit nasional kadang membuatnya banyak tingkah.
UU Cipta Kerja, rintisan sejak eranya, namun mendadak menolak dengan tegas. Ini semua karena ketidakberanian mengeksekusi, konsekuensinya memang mengerikan, bagi politikus citra, bukan negarawan berbasis kinerja. Demo, bahkan dengan sangat gamblang mengatakan partainya bersama mahasiswa dan rakyat. Padahal di tengah pandemi. Ada jalan lebih rasional dan tentu saja konstitusional, ke MK atau menolak sejak embrio, toh semua tidak dilakukan. Jelas muaranya.
Mengenai uang dan kekayaan semua juga paham, bagaimana reputasi pemerintahannya. Mempertahankan diri atas kepemilikan, kemudian menciptakan kisruh demi kisruh kog bisa dipahami, ada indikasi ke sana.
Anak-anaknya identik dengan yang pertama, terlalu maaf rendah kapasitasnya untuk bisa bersaing di kalangan elit nasional. Proteksi dan diberi kendaraan bernama partai saja mereka bisa eksis. Coba berjuang sendirian, entah apa jadinya.
