Dikit-dikit Ayat, Tuhan, Neraka, dan Mabuk Agama
Sederhana kog mengecek mutu hidup dan beragama itu. Makin rendah hati atau makin sombong dan congkak. Orang beragama, dekat dengan Tuhan itu pasti rendah hati dan tidak akan bisa sombong. Lucu dan aneh, jika mengaku agamis namun sombong dan congkak.
Membawa damai, kata-katanya lembut, tegas, sikapnya jelas, bukan ambigu apalagi ambisius. Lihat saja model Buya Syafei, siapa tidak kenal beliau. Atau Habib Lutfi, melihat saja orang sudah tenteram, nyaman, dan tidak akan bisa neka-neka, kecuali memang bukan manusia.
Pikiran dan wawasannya luas, tidak sempit. Apalagi semua hal dikaitkan agama. Politik pun agama, hukum juga agama, pendidikan agama, lha relasi pun ditanyakan dulu agamanya. Bisa dipertanyakan kog, ini mabuk atau menghayati agama.
Agama sebagai tuntunan itu jelas. Seperti orang menggunakan aplikasi MAP. Di mana tuntunannya jelas, kalau kelewat akan ditegur, dikatakan kapan belok, kapan terus. Beragama yang dewasa juga bukan manusia yang diteror dengan CCTV. Membebaskan, bukan membelenggu. Takut diamat-amati malaikat, namun korupsi, fitnah malah tidak takut.
Mabuk agama ini bukan soal agamanya, namun politisasi agama yang membelenggu orang untuk menjadi manusia merdeka. Tidak heran banyak orang yang mengatakan, jualan paling murah meriah ya jualan agama.
Inilah yang sejatinya penistaan agama. Pelakunya kadang agamanya sama, namun perilakunya lebih buruk dari iblis jahanam malah. Jangan-jangan nanti iblis mendapatkan pengampunan karena menjadi korban fitnah dan kambing hitam?
Salam Penuh Kasih
Susy Haryawan

Terima kasih, membawa sebuah pemahaman bagi seorang awam seperti saya.
Sehat selalu, Rm.
Makasih Mbak
Sama2 belajar
Salam sehat