Rizieq Sportif itu Gak Mudah Ya?

Usai kabur tiga tahun, sepanjang 21 ini, Rizieq penuh dengan drama dalam persidangan. Usai vonis delapan bulan kini menghadapi tuntutan sampai tahunan. Wajar yang biasa  berkuasa penuh, seolah hukum bisa diatasi. 

Lihat saja perilakunya, baik di Arab atau sebelum dan seusai dari sana.  Tetapi, semua itu berbalik sepenuhnya ketika ada di dalam bui dan tuntutan jerat penjara. Arogansi yang sama masih, menebarkan kesalahan pada pihak lain, dan membenarkan diri dengan segala daya upaya.

Lagi seneng dengan model analogi membuang samph pada pekarangan tetangga agar halamannya  terlihat paling bersih. Begitu banyak nama disebut, ada Ahok, Bima Arya, Tito, Wiranto, BIN, juga Diaz. Apa yang bisa kita pelajari dari?

Rizieq

Pertama, menjadi pemuka, elit, apalagi tokoh agama itu konsisten di dalam kebaikan dan menebarkan kebenaran. Lihat saja, apa yang Rizieq sampaikan selama ini, apakah sudah ada sikap, pernyataan, dan kata-kata yang konsisten?

Kedua, gampang melemparkan tanggung jawab dan kesalahan pada pihak lain. Padahal, rekam jejak demikian mudah ketemu perilakunya tidak demikian. Mengatakan dengan  enteng apa yang dilihat dari kaca mata waras dan logis, itu adalah kesalahan. Bagaimana pertanggungjawaban sebagai pemuka?

Ketiga, enteng mencari pembenar dengan mengaitkan perilakunya pada pihak yang sekiranya itu bisa memancing dan memantik keriuhan. Apa kaitan kasusnya dengan pribadi Ahok. Ini titik di mana kita bisa belajar amat bahwa sikap batin itu penting.

Keempat, kebohongan  akan ditutupi dengan kebohongan berikut, demi mendapatkan  keadaan diri yang aman dan bebas dari tanggung jawab.  Pembuktian bisa dengan mudah dicari dari pernyataannya sendiri.

Kelima, buah iman, beragama itu sederhana, Konsisten dan satunya kata dan perbuatan. Bagaimana bisa mengaku tokoh agama, namun sikap dan kata-katanya jauh dari apa yang seharusnya dilakukan, bahkan oleh awam yang paling biasa sekalipun.

Guru, pembelajaran, dan juga pengajaran itu termasuk dari perilaku buruk, jelek, dan juga tidak benar. Bagaimana memetik makna dari yang buruk  untuk tidak diikuti dan dijadikan sebuah peringatan untuk tidak dilakukan.

Salam penuh kasih

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *